aku nggak bisa selalu jadi yang aku mau. aku nggak bisa berusaha seimbang diantara ini semua.
of course, i enjoy my life. every minute of it. i'd love to sleep all the day when there's no tasks, off duty day. and becomes so tempered at weekdays or in the hectic days.
apa aku berlebihan? aku cuma mau selangkah lebih maju dari yang lain aja kok.
aku tau aku ngga pinter-pinter amat, well at least am not that academical person, aku lebih practical dan suka semua pengalaman itu.
aku suka bekerja dalam tim. dan biasanya cocok dengan berbagai tipe orang. tapi ternyata nggak semuanya aku cocok. ternyata aku masih punya batas toleransi, dan saat batas itu dilewati. phooooft!
aku bisa meledak.
aku nggak tahan sama orang yang ngga bisa kerja sistematis, dan terlalu menggantungkan diri pada orang lain, aku ngga suka sama orang yang memaksakan sesuatu pada orang lain tanpa bertanya lebih dulu, tanpa bisa mendeploy tugas dengan baik.
oke, mungkin aku nggak biasa jadi "bawahan" tapi oh come on, selama ini aku jadi bawahan dan selalu oke-oke aja, sebelum ketemu tipe orang seperti ini.
well kalo boleh aku bilang, tipe orang seperti apa...
"tipe atasan yang nggak mungkin kita hormati karena dia nggak punya skill leadership yang bagus, tapi menuntut kamu terus menerus"
aaaaaa, i hate that!
okay, enough about my unprofessional partners (dan aku sendiri akhirnya membatalkan perpartneran kita secara sepihak, which is... aku tidak profesional juga)
dan hidupku. oke kehidupan personalku berantakan, nggak berantakan-berantakan banget. tapi mulai mengganggu, perlahan tapi pasti.
"Kapan salah satu dari kami akan melepaskan yang lainnya?"
hubungan dan status ini sudah terlanjur enak, nyaman, tanpa beban, tanpa tuntutan, dan dia pacar yang sangat baik. tapi kami berdua tau, ini nggak mungkin dipersatukan.
aku nggak akan pernah pindah ke agamanya, dan aku nggak mau dia pindah ke agamaku, dia katolik yang taat dan aku bangga akan itu. tapi sama sekali nggada niatku untuk beralih dari islam.
sisi baiknya, dia pacar yang paling baik dari semua-semuanya. sederhana, konyol, nggak aneh-aneh, dan sabar.
dimana aku bisa nemuin orang seperti itu?
dia tau aku sibuk,
aku tau dia sibuk,
dan kami nggak akan mengganggu kesibukan satu sama lain.
ngga ada yang spesial, ngga ada yang istimewa.
tapi semuanya itu yang bikin ini istimewa.
kalo diterusin lagi, "so, what will future brings to me?"
happy ending?
sad ending?
i don't really care, aku berusaha untuk selalu mengandalkan diriku sendiri dan jadi orang yang bisa diandalkan oleh orang-orang disekitarku.
i don't want to be a girl's man, i want to be the man!
extremenya, aku ngga mau jadi istri presiden. aku mau jadi presidennya.
tapi tenang aja, aku ngga bercita-cita jadi presiden kok...bukan bakatku berdiplomasi.
dan aku merasa, well, sangat capek dan kesepian.
apa itu harga yang harus dibayar?
alhamdulillah, sampai saat ini aku masih bertahan. yaaah, kehidupan kuliah rata-rata, keluarga, sahabat, kerjaan sampingan, hobby, jalan-jalan semua seimbang.
aku senang aku masih bisa seimbang, diantara semua ini.
makin lama aku makin paham, masa lalu, masa depan, jadi nggak begitu penting. itu hanya kurun waktu yang pasti kita lewati.
tapi pertanyaannya adalah, apa yang sudah kamu lewati dan akan kamu lewati??
do you ready for that? and sure, i will make myself ready for that.
okay sekian curcol hari ini.
daaaaaannnnnnnnnn, sepertinya sampai 5 desember hidupku bakal jauh dari kata santai. jadi mungkin akan rehat sejenak.
xoxo
im not your Blair
im Blair of me!



I always wondering about my long distance relationship too. does she think as you do? :(
ReplyDeleteby the way, cheer up, Nadia!