Sama seperti orang kebanyakan, semakin berumur seseorang semakin banyak tuntutan yang harus dipenuhi demi menjadi mandiri.
Saya tidak mengatakan bahwa hal tersebut membebani, saya justru merasa hal tersebut adalah lumrah. Namun kenapa banyak sekali friksi yang timbul akibat pergeseran nilai-nilai budaya, moral, norma terhadap tututan kebutuhan?
Terkadang saya menghela nafas yang panjang. Terlahir bukan dari keluarga konglomerat, tidak terlalu cantik, dan tifak pandai mencari suami kaya membuat saya mengerti saya harus mengusahakan kesuksesan saya sendiri. Saya sama sekali tidak merasa terbebani dengan hal itu, saya menyukai tantangan.
Pemikiran saya berikutnya, namun masih bisakah saya mengimbangi ambisi dengan menjalin hubungan yang menyenangkan?
Banyak sekali tuntutan dalam profesionalitas, salah satunya fokus dan komitmen terhadap pekerjaan. Bila hal ini dibenturkan dengan tuntutan untuk menjadi fleksibel saat menjalin hubungan tentunya terkadang ada yang harus berkorban.
Lagi-lagi pihak wanita.
Saya menyukai hubugan saya saat ini. Namun hal tersebut bukan tidak mudah. Saya terkadang harus bangun jam 2 dini hari untuk sekedar skype-ing dengan perbedaan waktu 5-7 jam bergantung dimana saya berada.
Saya juga harus tetap fokus dengan kuliah saya, karena siapa lagi yang akan menanggung biaya hidup saya jika bukan saya sendiri?
Entah itu bekerja atau menempuh pendidikan tinggi, tuntutan-tuntutan sosial dan profesional agaknya akan semakin bertambah.
Namun selama kita ikhlas menjalaninya, isnyaAllah kita diberi semangat lebih untuk membuktikan diri kita lebih kuat dan hebat dari segala halangan yang ada.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



No comments:
Post a Comment