Sunday, May 25, 2014

Keengganan yang Nyata

Hidup dan besar di Indonesia, mengenyam pendidikan dengan bahasa yang bukan bahasa inggris. Makan makanan pedas, dan bercanda dengan bahasa lokal.
Rasanya sudah lama sekali.

Tentu ada keinginan yang kuat untuk pulang, untuk merasakan perasaan yang sama.
Rumah.

Kecintaan pada tanah air adalah sesuatu yang mengalir dalam darah setiap orang yang hidup dan mendapat manfaatnya.
Namun, ada suatu keengganan yang nyata atas diri saya.

Saya cinta
Saya rindu
Namun saya enggan.

Satu hal yang paling saya sadari,
saya tidak pernah bisa menjadi diri sendiri di lingkunan yang penuh aturan mengikat.
Norma-norma yang ada, tidak sesuai dengan apa kata hati kecil saya.

Dikutip dari buku, The Fault in Our Star
"People say Amsterdam is the city of sin. Amsterdam is the city of freedom. In freedom we find sin"
Saya menyadari hal tersebut.
Aturan dan norma membuat kita terhidar dari perbuatan dosa
Tapi, keadaan tidak bebas bukanlah sesuatu yang saya inginkan.

Pada dasarnya kontrol diri adalah yang paling utama.
Apa yang kita percayai adalah apa yang kita lakukan.

Sejauh ini, dimanapun saya berada
Saya memegang teguh apa yang orang tua telah didikkan pada saya.

Keluarga kami adalah keluarga yang berpikiran cukup terbuka. Saya menyukai hal tersebut.
Semenjak kecil, kami memang dididik dengan ilmu barat yang lebih maju.
Pergesekan kebudayaan kami temukan saat kami harus berinteraksi dengan orang luar.

Keluarga saya, atas nama, nama baik dan kepercayaan, sepakat untuk memegang teguh adat timur diatas pemikiran barat kami.
Karena bagaimanapun, kami hidup dan menghirup udaranya.

Namun saat ini, saya bagaikan kapal kertas yang mengapung kemana saya mau.
Hidup tanpa batas dan tak ada kontrol atas aturan dan norma membuat saya berpikir ulang.
Apa yang saya yakini?

Sejujurnya, saya yakin bahwa manusia dikodratkan untuk bebas, sebebas-bebasnya.
Adalah kesadaran akal manusia, membuat kita berpikir ulang.
Sebenarnya, tidak penting apa yang orang katakan dan nilai.
Yang penting adalah keyakinan kita.

Sampai saat ini tidak ada seorangpun di dunia yang bisa menunjukkan eksistensi Tuhan
Tapi sebagian besar manusia percaya bahwa Ia ada.
Sampai saat ini tidak ada seorangpun bisa membawa kebenaran mengenai kehidupan setelah kematian.
Tapi sebagian besar manusia percaya bahwa hal tersebut ada.

Lalu, apa kuasa kita untuk menilai kepercayaan yang lainnya?
Pada akhirnyanya, jujur ataupun bohong, hanya diri kita sendirilah yang tau.

Itulah kebebasan
dan dalam kebebasan, kita menemukan dosa
atau pencerahaan.

Saya berjanji mulai detik ini,
saya tak akan ragu atas keyakinan saya
mungkin keyakinan saya akan berubah seiring waktu.
Namun yang terpenting, saya takkan meragukan diri saya lagi.

Karena sayalah yang dapat mengendalikan diri sendiri,
bukan orang lain
Sayalah yang menjalani hidup ini,
bukan orang lain

Kita beruntung jika kita mememui orang-orang yang sepemikiran dan sekeyakinan,
namun jika tidak,
itulah hidup... karena kita menjalani hidup yang berbeda
dalam wadah yang sama
Dunia.



No comments:

Post a Comment