Wednesday, December 7, 2016

Mengapa Dunia Kita begitu Terbelah?

Why Our World is so divided? Mengapa Dunia kita begitu terbelah?

I am trying to be neutral as far as possible. Saya berusaha netral sejauh kemampuan saya.
Saya sadar bahwa opini saya bukanlah opini mayoritas penduduk di negeri kita. Mungkin saya hanya berbagi latar belakang dengan 1% golongan di Indonesia, yang diberi kesempatan (privileged) untuk mengenyam pendidikan dari berbagai negara dan belajar budaya dari penduduknya.

Namun, peribahasa ibu kita adalah, jangan jadi kacang lupa kulitnya serta dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung.

Saya hanya berusaha memahami mengapa generasi muda kita tumbuh menjadi generasi yang begitu berbeda?

Singkat saja, kita dididik dari kurikulum pendidikan yang sama, presiden kita dulunya sama-sama Pak Harto. Ada yang suka, ada yang tidak suka. Partai di negara kita, umumnya hanya 3, Golkar, PPP, atau PDI. Tidak sulit mengklasifikasi.. biasanya PNS pasti Golkar, santri pasti PPP, dan Pak Becak pasti PDI. Itu ilmu politik yang kita terima di era 1990.

Demokrasi kita adalah demokrasi perwakilan, melalui MPR dan DPR. Kita hanya pilih partai politiknya saja.

Demokrasi langsung adalah hal baru di negeri kita, sekarang partai jumlahnya lebih banyak, pemimpin dipilih langsung, biaya demokrasi sangat besar, pemilih bisa jadi rasional, bisa jadi tidak. Media massa menunjukkan keberpihakan, semua orang yang maju jadi pemimpin ingin mendapatkan suara terbanyak dari rakyat.

Tanpa disadari, kita jadi mengenal bahwa rakyat ini sungguh beragam. Ada rakyat yang religius, ada rakyat yang antipati, ada rakyat yang tidak mau dikaitkan dengan politik, ada rakyat yang sangat sensitif terhadap politik. Ada rakyat yang jadi diaspora ada juga rakyat yang hampir tidak pernah melakukan migrasi. Lalu, bagaimanakah wajah mayoritas rakyat Indonesia?

Terbukti dari maraknya demo dan post facebook, rakyat Indonesia adalah kalangan menengah ke bawah Dunia. Secara ekonomi masih rentan krisis, GDP, HDI, dan semua indikator masih di angka rata-rata. Mayoritas rakyat Indonesia menerima fakta ini, tapi ada banyak juga yang tidak tahu apa itu GDP dan HDI, apa itu buatan Amerika?

Jujur saja, entah itu buatan Amerika atau World Bank, itu aturan mainnya di Dunia ini.

Penduduk dunia ini juga beragam, ada yang kristen, ada yang muslim, ada yang budha, ada yang hindu, ada yang tidak punya agama. Bagiku ini semua adalah statistik.

Mungkin dunia akan berbeda jika yang mayoritas penduduk adalah Islam?
Tapi aku jadi berpikir lagi, mungkin Indonesia akan berbeda jika yang mayoritas adalah kristen?

Makin aku berpikir tentang kemungkinan ini dan itu, sebenarnya aku hanya mencari pembenaran atas kacaunya keadaan disekitarku.

Aku tidak suka saat membaca berita-berita yang berbasis di Amerika, penduduknya begitu sentimen terhadap islam. Aku juga tidak suka, di Indonesia penduduknya selalu menggunakan dalil-dalil untuk mencari pembenaran tidak rasional.

Terjebak di antara dua dunia ini, aku yakin sebenarnya kalau kita lebih fokus pada persamaan, bukan perbedaan... sebenarnya makhluk di dunia ini tidak begitu berbeda.

Jadi kalau ada orang yang menjelek-jelekkan orang lain, terlepas apapun agama dan kewarganegaraannya, sebenarnya dia sedang menunjukkan dirinya sendiri.

Itu lah wajah yang begitu beragam...wajah yang kalau dari kejauhan kelihatan sama, tapi kalau dilihat satu per satu, sangat berbeda.

Wajah dari hasil pendidikan
Wajah dari hasil krisis ekonomi
Wajah dari hasil doktrin agama
Wajah dari hasil media massa
Wajah dari hasil buku-buku barat
Wajah dari masing-masing rakyat dan kesulitan-kesulitannya.

Aku bersyukur aku dijauhkan dari kesusahan, dan aku berharap makin banyak rakyat yang ikut merasakan kemajuan dunia dan bersyukur terhadapnya.

Namun, jika kesenjangan sosial, ekonomi, dan pendidikan masih ada... aku yakin kita masih begitu terbelah oleh perbedaan

No comments:

Post a Comment