"Hanya belum waktunya"
Kata2 itu memang nampaknya meluncur sekonyong-konyong dikepalaku.
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul tiap beberapa detik sekali, di dalam sini (kepalaku), pertanyaan-pertanyaan itu biasanya acak, biasanya ga jelas asal dan juntrungannya. Tiba-tiba saja ada yang muncul seperti gas dan memenuhi seluruh neuron otak.
Manusia punya akal untuk berpikir, tapi akal itu juga ada batasnya.
Mungkin sebagian yang beruntung selalu punya jawaban dari setiap pertanyaan. Sebagian yang belum beruntung "hanya" bisa menunggu waktu.
Dan jangan mendahului takdir.
Itu adalah pelajaran yang kudapatkan saat aku beranjak dewasa.
Bicara soal takdir, aku bahkan ragu jika hidup ini adalah sebuah takdir. Ini seperti "serangkaian kebetulan" di mataku.
Tapi aku mana tau?
Bukan aku yang menciptakan kehidupan ini. Tanya ke Allah saja, mungkin Dia akan menjawab.
Dari semua kebingungan, kegalauan, kecemasan, dan penyesalan. Semuanya rasanya tidak enak kalau dipikir-pikir.
Selain akan membuat performa hidup kacau balau, hal tersebut tak pernah sehat untuk mental.
Kesalahan-kesalahan di masa lampau, kepercayaan-kepercayaan yang retak, rasa hormat yang hilang, serta kebencian terhadap orang lain atau diri sendiri, sebenarnya adalah sesuatu yang tidak berguna.
Benar-benar tidak berguna dipikirkan.
Toh, itu semua sudah terjadi.
Entah itu takdir atau kebetulan.
Tidak perlu semua dijawab sekarang. Pasti ada waktunya.
"Hanya belum waktunya"
Untukku menyelesaikan semuanya.
Hanya belum waktunya aku mengetahui jawabannya.
Terkadang yang aku perlukan hanya menunggu dengan sabar.
Bukankah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



No comments:
Post a Comment