Saturday, July 26, 2014

Lebaran 2014

Hari ini aku pulang ke rumah!
Jika dipikir-pikir, rumah adalah satu hal yang susah untuk dideskripsikan saat ini.
Menurut Wikipedia, rumah berarti:

Selama setahun ini aku tinggal berpindah-pindah, mulai dari tinggal di asrama sekolah di Taiwan, kemudian tinggal di luar lingkungan sekolah untuk merasakan perasaan “tinggal diluar”, kerja musim panas yang membuatku terdampar di lautan pabrik sepatu di daerah antah-berantah, perjalanan 3 jam dari Serang ke Jakarta untuk tidur lebih lega di rumah tanteku di bilangan tebet, hingga akhirnya aku berada disini.
Di tengah-tengah bandara C1 Soekarno-Hatta menunggu pesawat yang terbangnya masih nanti-nanti, menuju rumah orang tuaku.
Umurku sudah 24 tahun, bukan usia yang muda untuk hidup masih bergantung pada orang tua. Namun sayangnya, hidup di “luar” itu sulitnya bukan main.
Sehat-sakit-senang-bahagia, semua kita urus sendiri.

Hidupku sangatlah mudah sebelumnya, fasilitas orang tau selalu ada. Hidupku tak pernah dekat-dekat dengan masalah paling fundamental umat manusia, sandang-pangan-papan.
Tapi lihatlah hari ini. Boro-boro untuk makan enak, aku harus benar-benar berpikir baju apa saja yang perlu aku bawa, jika tidak ransel kecilku tak akan muat membawa semuanya.

Aku bagaikan orang kebingungan, punya tujuan tapi tidak tahu apa yang benar-benar kuinginkan. Aku hanya menjalani.
Setiap hari, aku belajar bahwa… hari-hari ini akan berakhir. 1,5 bulan itu tidak selamanyanya, hanya butuh 45 kali tidur untuk mengakhirinya. 2 tahun itu tidak selamanya, pada akhirnya aku akan menyelesaikan master di Taiwan.

Membayangkan bahwa aku akan bekerja dengan gaji yang akan cukup untuk menunjang hidup dasarku sehari-harinya, membuatku tersadar. Aku tidak mencari uang semata.

Aku ingin membangun rumah, tempat dimana aku bisa tidur dengan nyenyak dan melihat orang-orang yang aku sayang setiap harinya.

Cinta itu sangat aneh, cinta membuat kita ingin melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan. Seperti aku akan terbang ke Jerman atas nama cinta dan jalan-jalan.
Kami berdua akan melawan dunia atas nama cinta!

Uniknya tentang cinta, saat kita merasa kita tidak mengenal diri sendiri, justru orang yang mencintai kitalah yang bisa memahami kita. Paham dan mengerti.
Dengan semua keanehan tingkah lakuku, Matthias sangat bisa memahamiku dari sisi paling luar hingga sisi paling dalam.

Cinta itu memang sialan.
Kita merasa ditelanjangi bulat-bulat dan membuat kita tidak berdaya, apapun yang bisa kita beri, akan kita beri. Seberapun bodohnya transaksi beri-memberi ini.

Rumah dan cinta, ah… surga dunia!

Namun jika teringat kembali hutang-hutang yang harus di bayar demi sebuah kelulusan, aku sangat menjadi murung dan stress. Sejauh ini nilai-nilaiku memang selalu memuaskan, tak pernah jauh-jauh dari nilai A. Namun tetap saja, perjuangan untuk menjadi A tidaklah mudah. Ditambah pacarku yang jenius bak dewa, membuatku harus pontang-panting agar tidak terlihat bodoh di hadapannya.

Hidup memang begitu susah, ya?

There are times in my life, I feel like giving up not because I would fail but because I knew I would pass but I had to endure severe pain, a beauty of fight.

The life I live for now is so much different than the life I knew back then. I still remember how afraid I was in KLIA alone back to 2011. The first time I went as a solo travel to the unknown. Meeting new people travel together and get separated by time. Every time this cycle has an end. The ending does not always what we want and trough those endings I become stronger.
I don’t cry myself anymore because I am lonely; I know I have to be alone. I accept it.
Unlike my friends with monthly salary, I am still a student; I cannot afford a lavish lifestyle. I cannot plan any marriage, or buying house somewhere. All of the effort is focused on getting master degree.

I am happy that I have this interesting life, thus is so unsure. I am happy that I met Matthias, I am happy that I get to know antonny and ci suri, they are the best among all.

I really love this life, I want to live with them. At the end, home and journey has a very special bond. It always misses one and another.



No comments:

Post a Comment