Wednesday, February 24, 2016

Ikhtiar Saya

Hari ini saya akan menulis uneg-uneg singkat dalam Bahasa. Biasanya saya suka tulis dalam Bahasa Inggris atau Bahasa lain (bahasa kalbu), tapi kali ini saya mau tulis dalam Bahasa Indonesia.

Oke. Saya stress berat. Saya sangat stress sampai saya kadang lupa waktu tidur, lupa waktu makan, dan lupa waktu untuk merawat diri. Saya susah tidur, saya kepikiran banyak hal. Rasanya nggak enak banget. Dulu masalah saya cuma karena hal-hal galau nggak penting, sekarang masalah saya taruhannya sejumlah banyak uang, masa depan, karir, dst.

Apa saja yang membuat Nadia (princess) galau di umur 25 ini? Well, mari kita rinci satu persatu:

1. Setelah lulus pekerjaan saya shitty - challenging - depressing - and lower income (compare to what a foreign master student should get paid!)

Nggak perlu saya sebutkan saya kerja di perusahaan mana. Gajinya boleh dibilang sudah 8 digit kecil secara keseluruhan termasuk benefit. Sebenernya nggak kecil-kecil banget, tapi juga nggak besar! Kerjaannya? Banyak naudzubillah. Dalam 1 hari saya bisa terima 400-700 email, 15% -nya harus saya attn dan saya follow up. Dalam tiap 2 menit, telpon extension saya bunyi. Dalam satu hari saya bisa destroy 2-3 sepatu. Sepatunya bukan sepatu New Era, sepatu yang saya destroy adalah sepatu Jordan. Harga 3-4 sepatu itu yang paling mahal, sudah bisa gaji saya 1 bulan. Bayangkan nggak seimbangnya gaji saya? Sudah gitu, perusahaan tempat saya kerja sangat menitikberatkan efisiensi. Komputer saya saja RAM-nya hanya 1 giga, internet dibatasi, semua limbah di daur ulang, tidak semua telepon punya sambungan keluar (untungnya saya bisa), kamera CCTV dimana-mana, dan tidak boleh cerita apapun yang dikerjakan di dalam LAB. LAB apa? LAB sepatu yang akan di produksi massal. Tanggung jawab kerjaan saya sangat besar, terakhir saya buat sepatu promo Jordan Retro 11 untuk istrinya Michael Jordan (Yvette Jordan). Sebentar lagi saya harus lead kegiatan yang dihadiri Director Jordan langsung dari Beaverton, USA. Dengan begitu banyaknya kerjaan saya, kecilnya gaji saya, dan panjangnya jam kerja saya (48.5 jam/minggu) saya jadi stering stress sendiri.

2. Saya ingin menikah tengah tahun ini.

Orang bilang, kalau mau menikah itu harus banyak ikhtiar, berdoa, dsb. Tapi saya percaya, jika kita menginginkan sesuatu, kita harus set goal yang jelas dan berusaha mencapai tujuan itu. Saya sudah sangat ingin hidup bersama pasangan saya, dengan ritme hidup yang lebih normal dari pekerjaan buruh pabrik. Saya juga sayang sekali dengan pasangan saya. Saya ini orangnya sulit, tiap punya pacar selalu ganti-ganti (Taylor Swift juga dulu gonta-ganti pacar, sebelum dengan  Calvin Harris). Sebagai perempuan saya punya standar kepuasaan yang cukup tinggi. Jika saya dikecewakan, saya merasa saya berhak mendapat yang lebih baik karena saya selalu memberi yang terbaik untuk pasangan saya. Jadi... saya kaget sekali waktu pasangan saya melamar saya! Dalam hati, "ini serius mas-mas eropa ganteng, pinter, baik ini mau sama saya?" Saya selalu punya inferior complex terhadap orang-orang tertentu. Ibarat rang memancing, ini udah pancingan terbaik saya. Saya nggak pernah se-jatuh-cinta ini. Karena dia, saya menjadi diri saya yang lebih baik dan lebih berani vokal tentang pendapat saya.
Jadi apa yang saya lakukan? Saya urus semua dokumen, saya kerahkan keluarga besar saya untuk urus dokumen.. mulai ibu, adik, paman, ayah dan mbak rewang. Semua orang kami yakinkan satu persatu bahwa kami akan menikah. Pasangan saya dan saya ngomong ke ortu saya, kami ngomong ke keluarga paman saya, ngomong ke kakek saya. Kami terbang melintasi benua setiap 5 bulan sekali dalam tahun-tahun terakhir ini. Setelah kami hitung-hitung juga, biaya terbang kami sudah terlalu besar.. saatnya kami membina rumah tangga secara legal demi kepentingan pajak dan biaya travelling. Kalau orang tanya, apa ada cinta? Jawabnya, tentu. Cinta kami sangat unik... saya tidak ingin deskripsikan bagaimana. Dua budaya yang sangat berbeda, ciri fisik yang sangat berbeda, tapi kami punya selera makanan yang sama. Banyaklah... harus satu blog post panjang untuk jelaskan.
Well, pengurusan nikah ini sangat menguras emosi saya. Mulai dari birokrasi yang ribet, surat-surat yang gantung, dan biaya yang besar. Masa depan kami ada di tangan Orang Imigrasi. Sering saya tidak bisa tidur karena kepikiran tentang dokumen-dokumen atau apa yang harus saya lakukan di Jerman?

3. Saya memutuskan sekolah lagi.

Dasarnya mungkin karena saya nggak bisa nganggur, saya suka belajar, dan saya suka suasana kompetisi (dengan murid lain). Saya akhirnya memutuskan saya mau belajar bahasa jerman, sekolah bisnis/European Studies dan melamar di perusahaan Jerman. Pekerjaan apapun saya akan kerjakan asal saya tidak menganggur. Sebenarnya, ada di benak kecil saya (on my second thoughts),  saya mau jadi ibu rumah tangga aja, SAHM bahasa kerennya. Enak... tunggu suami, masak-masak, buat bisnis dan mengembangkan hobi. Tapi.................... saya ini tetap anak ortu saya dan ortu saya "hanya" punya 3 anak perempuan. Kalau saya tidak menggapai mimpi-mimpi saya, bagaimana adik saya bisa terpacu untuk menggapai mimpi-mimpinya? Siapa yang menuruskan nama keluarga Ayah saya? Bagaimana saya bisa menjadi contoh yang baik, sukses dan membanggakan keluarga saya? Saya harus meraih prestasi! Bukan karena saya istri seseorang, tetapi karena diri saya sendiri.
Akhirnya saya memutuskan untuk menempuh jalur ini, menggapai mimpi ini. Mimpi orang-orang yang mengorbankan mimpi mereka demi saya (Ibu, ayah, tunangan saya, dan keluarga saya). 
Well, tantangannya terletak pada pengurusan dokumen-dokumen lagi. Saya harus tes IELTS dan GMAT, terimakasih Allah, kedua tes tersebut saya dapat nilai yang cukup (fairly enough)! Tinggal saya buat motivation letter, update CV, dan kirim dokumen ke Jerman. Pasangan saya bilang dia bangga saya bisa gabungkan kerjaan, tes, dan mengurus pernikahan di waktu yang bersamaan. Saya pribadi (memang selalu bangga dengan diri sendiri) sangat tegang dan kepikiran bagaimana harus membuat segalanya berjalan seimbang. Saya bisa melakukan ini!

Saya yakin dengan menuliskan jelas-jelas keinginan saya, sadar terhadap kekurangan dan stress saya, saya dapat mengatasi semua hal ini. Saya yakin saat kita sangat menginginkan sesuatu, alam semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkan hal-hal yang ada di dalam pikiran kita. Saya yakin Allah juga bekerja dengan cara tersebut. Saya yakin Gusti Allah tidak sare, maka saya juga tidak boleh malas.

Saya pertaruhkan segala yang saya punya untuk ini. Setelah ini saya tidak punya apa-apa lagi. Finansial, waktu, "muka" dan masa muda saya. Tapi inilah jalan hidup yang saya pilih... tidak mudah, tapi akan saya jalani. Saya berdoa agar semua orang yang mengenal saya bisa mengirim energi-energi positif agar doa dan usaha saya terkabul. Amin.

 

No comments:

Post a Comment