Friday, December 6, 2013

Rumah

Rasanya baru kemarin pergi dari rumah yang nyaman, tempat tidur yang besar, dan fasilitas Mbak Saini. Setiap menoleh ke belakang, mengingat bahwa dulu hidup rasanya mudah sekali membuat aku ingin selalu pulang dan jadi anak kecil lagi.

Makan tinggal minta, nggak pernah bersihin kamar, nggak pernah cuci piring dan cuci baju, dan hampir selalu ada makanan di kulkas. Apapun yang kita minta, Mbak Saini bisa bikinin buat kita.

Ibu dan Ayah juga hidup sangat nyaman, bisa dibilang apapun ada di kamar ibu dan ayah. Mulai dari meja kerja, TV, kamar mandi, dan kulkas berisi harta karun.

Dari semua hal yang mereka capai, aku selalu bertanya bisa nggak ya aku seperti itu. Memenihi kebutuhan seluruh keluarga dan hidup nyaman tanda terlalu banyak beban.

Ibu masih bisa belanja di sela-sela pekerjaan dan ayah masih bisa baca banyak buku setiap hari. Di hari libur mereka masih bisa nonton film-film terbaru di rumah. Bisa dibilang hidup seperti ini sangat nyaman dan kadang bisa buat orang jadi malas.

Kalau jaman dulu orang dapet susah dulu baru enak, saat ini aku dapat enak dulu baru susah. Setelah tinggal di rumah yang sangat nyaman dan tanpa perbedaan bahasa, budaya, dan segalanya. Sekarang harus menghadapi kenyataan bahwa hidup nggak se-wow anak gaul Surabaya.

Kalau orang bilang, hidup itu yang penting berkecukupan. Aku bilang, gimana orang bisa merasa cukup? kenapa orang nggak mau mencari yang lebih baik? kenapa mereka nggak mau mengeksplorasi? kenapa mereka nggak pengen jadi pengembara? Rumah memang tempat yang selalu kita kangenin karena nggak ada tempat lain di dunia senyaman rumah.

Tapi 21 tahun hidup di rumah cuma bikin kita merasa terpenjara dan nggak tau apa-apa tentang dunia. Suatu hari nanti, aku akan mencari suatu tempat yang bisa aku panggil rumah. Selain rumah orang tuaku.

No comments:

Post a Comment