Wednesday, May 20, 2009

facebook dan orang desa

hari ini seharian penuh saya di rumah, buka facebook, tidur, dan makan. ada yang krusial yang bikin nggak bisa ngampus.. kesalahan bodoh yang lain deh. udah gitu saya jadi nyesel, kenapa banyak banget hari yang saya buang sia-sia, padahal mestinya saya bisa kuliah, bisa ngelanjutin pekerjaan, bisa ngobrol bareng teman-teman. kalau di rumah mah, saya semakin terasing. apalagi saya nggak suka liat tivi, saya lebih suka browsing internet atau dengerin musik.
hari ini matkul saya lumayan penting, statistik industri I. maunya tadi minta diajarin sama pacar, tapi nggak jadi ajalah. sikon tidak tepat.
nggak cuma masalah kuliah, mestinya hari ini saya juga ada rapat sama anak-anak Eureka TV nggak jadi juga karena masalah ini.
mau rapat TI Magz batal juga, padahal deadline buat penerbitan ke 4, tanggal 23 Mei 2009. Which is mean 3 hari dari sekarang!
aarggggghhhh...... o_O
pengen ngamuk-ngamuk aja bawaannya, saya nggak suka dikejar deadline. tapi saya (alhamdulillah) selalu passed dari deadline itu, cuma ya gitu.. tingkat stressnya naudhubillah.
saya bisa terus-terusan ngerutin kening, nggak bisa ketawa berhari-hari, jadi orang paling jutek sedunia.
intinya saya jadi orang yang paling nggak mau diganggu.


oke, rasanya udah cukup sesi curhat kali ini.
hari ini saya kayaknya gagal buat mencapai tujuan akademis dan perkampusan saya.
tapi hari ini nggak sia-sia kok.

oke, nggak jauh-jauh kali ini saya mau bahas situs perkawanan Facebook


-------taken from : http://publishedmind.blogspot.com/2008/03/sejarah-facebook.html-----

Sejarah Facebook

Facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard.

Dalam waktu dua minggu setelah diluncurkan, separuh dari semua mahasiswa Harvard telah mendaftar dan memiliki account di Facebook. Tak hanya itu, beberapa kampus lain di sekitar Harvard pun meminta untuk dimasukkan dalam jaringan Facebook. Zuckerberg pun akhirnya meminta bantuan dua temannya untuk membantu mengembangkan Facebook dan memenuhi permintaan kampus-kampus lain untuk bergabung dalam jaringannya. Dalam waktu 4 bulan semenjak diluncurkan, Facebook telah memiliki 30 kampus dalam jaringannya.

Dengan kesuksesannya tersebut, Zuckerberg beserta dua orang temannya memutuskan untuk pindah ke Palo Alto dan menyewa apartemen di sana.

Setelah beberapa minggu di Palo Alto. Zuckerberg berhasil bertemu dengan Sean Parker (cofounder Napster), dan dari hasil pertemuan tersebut Parker pun setuju pindah ke apartemen Facebook untuk bekerja sama mengembangkan Facebook. Tidak lama setelah itu, Parker berhasil mendapatkan Peter Thiel (cofounder Paypal) sebagai investor pertamanya. Thiel menginvestasikan 500 ribu US Dollar untuk pengembangan Facebook.

Jumlah account di Facebook terus melonjak, sehingga pada pertengahan 2004 Friendster mengajukan tawaran kepada Zuckerberg untuk membeli Facebook seharga 10 juta US Dollar, dan Zuckerberg pun menolaknya. Zuckerberg sama sekali tidak menyesal menolak tawaran tersebut sebab tak lama setelah itu Facebook menerima sokongan dana lagi sebesar 12.7 juta US Dollar dari Accel Partners. Dan semenjak itu sokongan dana dari berbagai investor terus mengalir untuk pengembangan Facebook.

Pada September 2005 Facebook tidak lagi membatasi jaringannya hanya untuk mahasiswa., Facebook pun membuka jaringannya untuk para siswa SMU. Beberapa waktu kemudian Facebook juga membuka jaringannya untuk para pekerja kantoran. Dan akhirnya pada September 2006 Facebook membuka pendaftaran untuk siapa saja yang memiliki alamat e-mail.

Selain menolak tawaran dari Friendster seharga 10 juta US Dollar, Zuckerberg juga pernah menolak tawaran dari Viacom yang ingin membeli Facebook seharga 750 juta US Dollar, dan tawaran dari Yahoo yang ingin membeli Facebook seharga 1 milyar US Dollar.

Tidak ada situs jejaring sosial lain yang mampu menandingi daya tarik Facebook terhadap user. Pada tahun 2007, terdapat penambahan 200 ribu account baru perharinya Lebih dari 25 juta user aktif menggunakan Facebook setiap harinya. Rata-rata user menghabiskan waktu sekitar 19 menit perhari untuk melakukan berbagai aktifitas di Facebook.

Click link ini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Facebook.

Artikel lain yang berhubungan

Website
-------------------------------------------------------------------------------------------------

sekilas membaca artikel diatas, saya jadi kagum juga.. mahasiswa bisa bikin jejaring-nya sendiri. mungkin di pikiran orang, ah itu mah mahasiswa Harvard... UI belum tentu bisa bikin begitu, boro-boro ITS (kampus saya: red).
mungkin juga orang berpikir itu masih terlalu jauh, Indonesia mungkin bakalan menemukan inovasi-nya yang menggebrak dunia masih puluhan tahun lagi, mengingat kondisi masyarakat kita yang terlalu konsumptif, seragam, dan nggak mau bergerak cepat untuk perubahan.
lebih suka jadi yang mainstream daripada dikucilkan karena idealisme.

okelah itu memang fakta yang pahit.

tapi jangan salah sangka dulu, ternyata eh ternyata, nggak semua yang saya pikir tadi benar. karena setelah dikit-dikit saya ngobrol sama temen saya yang namanya Adam (anak Eureka), saya baru sadar kalo under estimating itu salah besar!


dari Mahasiswa Harvard saya mau cerita tentang salah satu Mahasiswa ITS bernama Adam

Adam ini anak kampus biasa, anak ITS perantauan, berasal dari salah satu desa di Mojokerto, desa Miji namanya.
saya kagum sekali sama Adam dan desanya. kenapa? karena baru kali ini saya tau.. nggak ada yang perlu disombongin dari kita. sama sekali nggak ada.

anak jaman sekarang kan sukanya under estimate gitu, dan semua serba dilabeli. apakah kamu golongan anak gaul, anak populer, anak kaya, anak nerd, anak pinter, anak dengan kehidupan sempurna, anak kalem, anak fashion, atau anak shuvit yang biasanya jadi gunjingan temen-temen yang lain.

dan begitupun saya dulu sempat melabeli diri sendiri.
tapi sekarang sudah tidak lagi.

balik lagi ke Adam dan kampung Miji. jadi ceritanya Kampung Miji ini deket sama alun-alun Mojokerto. di alun-alun ini ada wi-fi nya, dan wi-fi ini akhirnya digunakan oleh orang sekampung untuk ber-internet ria.

yang paling populer di sana adalah Facebook (nggak kaget..)
jadi orang-orang sekampung Adam pada punya facebook semua!
mulai dari bapak, ibu, Pakdhe, Budhe, misanan, ustadz, sampe anak kecil umur 4 tahun juga udah punya facebook. mereka menggunakan Facebook untuk tetap saling menyapa dan membuat inovasi di desanya tanpa harus menghilangkan adat istiadat yang berlaku disana.

saya sempat mergokin Adam lagi chat sama Pakdhe dan Ustadz nya... saya pikir, buseeett... keren banget, Ayah saya aja belum tentu punya Facebook.. tetangga saya, saya yakin pada punya Facebook.. tapi bodo amat saya nggak pernah tuh chat sama tetangga perumahan saya.

saya kagum sekali ternyata begitu hebatnya globalisasi, sampe orang desa aja sekarang punya facebook. dan yang membuat saya lebih kagum lagi, mereka dapat menggunakan facebook lebih bijak daripada kita (orang kota: red)

dengan adanya facebook dan internet, kini desa miji menjadi desa yang maju.. kumpul-kumpul rutinnya sekarang udah pakai laptop semua, tiap ada rapat dan cangkrukan selalu digunakan buat browsing.
udah gitu sekarang desa ini sudah punya pemancar wi-fi sendiri,
sudah punya radio lokal sendiri,
dan sekarang sedang mengerjakan tv lokal dengan dana terbatas.
yang saya salut lagi, tower pemancar desa ini bener-bener 100% dibikin sendiri, gotong royong dan rame-rame.
nggak ada tuh repot-repot cari vendor dari perusahaan telekomunikasi untuk bikinin mereka tower pemancar, nggak ada tuh acaranya cari sponsor apalagi tujuan buat cari untung kalo tower pemancar sudah jadi. semua swasembada sendiri. dibuat dan digunakan sepenuhnya untuk warga sekampung. buat terus belajar dan berkarya.

Adam sendiri bertekat untuk terus mamajukan Desanya, jauh-jauh belajar ke ITS, nantinya akan pulang untuk memberikan yang terbaik buat desanya.
siapa tau nanti kalo Adam pulang, tiba-tiba di Desanya bakalan ada universitas sendiri... hehehe...=p


"saya berpikir sebenernya siapa yang jauh ketinggalan?
masyarakat desa dengan segala adat desanya tapi mau belajar dan maju
ataukah masyarakat kota yang menilai diri sendiri berpendidikan tapi terlalu arogan untuk belajar hal-hal kecil?"


well, silakan dijawab sendiri =)

berikut adalah daftar link-link desa Miji:
Mojokerto IT
Bani Abdul Manan
Warung Kopi Tengah Bener
(warung kopinya aja sekarang udah punya group dan blogspot sendiri... ckckckck...)

4 comments:

  1. hwaahahahahahah
    Postingan yang Te O Pe Be Ge Te...
    Bnyak ilmu yang didapat, tapi juga gokil abissss,,
    apa lagi yang bagian cerita si Adam dari Miji.. :))
    Baca posting ini sambil bayangin wajah adam bikin ketawa-ketiwi sendiri... lucu dan penuh inspirasi... ehehehehhe Jangan tersinggung y Dam,,
    Cukup menghibur, pa lagi aku hbiz kuis MS yang jelas2 ancur banget...
    hehehhe
    well, bagus banget Nad, keren...
    Keep posting y... then i keep reading jg..
    Nice ;)

    ReplyDelete
  2. aduh! ....Nadia

    mau ngomong apa ya ...
    semua ta' lepas dari "sang pemberi Ridho"...

    Allah telah membuka jalan fikir mereka ...
    semua tertuju pada maqolah ..
    "Sebaik Manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya" ....

    dan aku bersyukur atas itu ...
    terimakasih Allah ....

    ReplyDelete
  3. aduh! ....Nadia

    mau ngomong apa ya ...
    semua ta' lepas dari "sang pemberi Ridho"...

    Allah telah membuka jalan fikir mereka ...
    semua tertuju pada maqolah ..
    "Sebaik Manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya" ....

    dan aku bersyukur atas itu ...
    terimakasih Allah ....

    ReplyDelete
  4. terimakasih adam... aku banyak belajar dari kamu... banyak sekali! =))

    ReplyDelete