kata-kata tersebut silih berganti dalam benak saya.
sedih. marah. kecewa. dan merasa tidak adil.
itu adalah sisi-sisi emosional yang saya kesampingkan.
kemudian berganti pada rasionalitas yang justru menyesakkan.
sesak, karena tidak habis saya berlogika
sesak, karena sesuatu yang bahkan tidak dapat di negosiasikan
saya jadi ingat kata-kata golden ways, "hidup itu memang tidak adil, tapi masih bisa negosiasi"
dan saya jadi berpikir, jika memang hidup ini tidak adil (atau memang sudah adil), negosiasi itu nyata dan perlu adanya.
karena informasi searah adalah fatal.
bahkan jika semua alasan tersebut memang benar, memang benar untuk mengambil keputusan.
kemudian saya berpikir lagi,
jika memang penentu, pengambil keputusan, ibaratnya adalah otak yang bekerja untuk tubuh mereka (mungkin saya melebihkan, tetapi jika memang begitu cintanya diri terhadap tubuh itu.. maka saya tidak merasa rugi menggambarkan ibarat "otak dan tubuhnya", satu kesatuan)
penentu itu berhak penuh 100% untuk menentukan pilihan, apa yang baik untuk tubuh dan tidak baik untuk tubuh.
di sini, otak tersebut berpikir bahwa saya tidak baik untuk tubuh. maka saya di label, ditolak.
sepenuhnya itu adalah hak otak. keinginan otak. kehendak otak.
dan benar untuk sudut pandang ini..
tetapi saya bukan makanan, bisa dilabel begitu saja.. alih-alih membuktikan. bahkan saya belum sempat bicara (untuk mengungkapkan kekecewaan terlebih lagi pembelaan)
dan mari kita lihat dari sudut pandang saya...
saya sepenuhnya tau, apa keputusan atas diri saya
dan dari tiap keputusan ada tujuan dan resiko.
jika saya masih sedikit ingat yang ia ajarkan tentang organisasi,
ada AKL dan ada KRS (atau RSK.. saya lupa..)
intinya selalu menekankan tiap langkah untuk jangka panjang..
kemudian saya memikirkan jangka panjang itu...
jangka panjang yang saya kalsifikasikan, mulai dari estimasi terburuk hingga terbaik versi saya.
yang pertama:
PROFESIONALITAS
jika saya melihat ini dari segi dewasa dan pemikiran berkembang. maka saya akan menjunjung tinggi profesionalitas. dan tentunya harapan saya orang-orang melakukan hal yang sama. karena hal tersebut, mutlak kita hadapi dalam kehidupan nyata.
saat spesies tidak mendapat habitat yang diinginkan maka mereka akan ber adaptasi dengan habitat tersebut. itu adalah profesionalisme paling harfiah di planet ini.
kedua:
KEKOMPAKAN TIM
apa perbedaan regu dan tim? regu adalah orang yang menempati posisinya sesuai dengan porsinya untuk tujuan yang sama, sedankan tim adalah bagian-bagian kecil yang saling mengisi.
kesuksesan tim merupakan kesuksesan bersama. dan kekompakan tim tidak dapat diukur dari seragam atau tidaknya varian tim tersebut. tetapi bagaimana tim memiliki tujuan yang sama.
tujuan yang sama yang membangun kekompakan itu.
contoh termudahnya adalah David Becham yang di pindah-pindah dari MU hinga LA Galaxy. tujuannya sama, agar menang.
maka dimanapun David bermain, ia mengisi dan ia membentuk kekompakan itu, demi tujuan itu (ganti sendiri menurut bahasa anda)
ketiga:
KARIER
karier adalah dimana anda mencari terbaik diantara terbaik. terbaik di sini sangat relatif. sesuai dengan parameter baik menurut anda.
karier adalah di mana anda bekerja berdasarkan rasionalitas, hasrat, dan keinginan yang manusiawi. karier memungkinkan anda mendepak orang yang tidak anda sukai, dan menekankan pada aspek-aspek riil yang memang dibutuhkan!
karier adalah dewa yang tidak punya hati (kadang-kadang)
TETAPI
saya tidak melihat itu semua demikian, bahkan jika dikilah-kilah,
bahkan jika saya memikirkan dua sisi, antara sisi saya dan sisi yang lain..semua menjadi tidak masuk akal, tidak masuk hati, dan tidak habis pikir...
karena saya melihat ini bukan hanya dari sekedar PROFESIONALISME, KEKOMPAKAN TIM, ataupun KARIER
saya melihat ini adalah PANGGILAN HIDUP saya.
dimana saya setuju, sepakat, sefaham, dengan dasar dan tujuan-tujuan yang ada.
bahkan jika kita terlalu berbeda, tujuan kita sama.
bahkan jika kita terlalu berbeda, panggilan hidup kita sama.
lalu apakah saya salah untuk ini?
sedih
marah
kecewa
itu hanyalah ungkapan, bisa hilang dengan bergantinya waktu dan detik
tetapi memori yang ditinggalkan tidak hilang begitu saja, dan itu sangat manusiawi.
saat panggilan hidup itu harus dipendam atau dibuang,
bukan karena kapasitas
bukan karena ketidak mampuan
bahkan saat faktanya adalah:
saya juga memiliki tujuan yang sama
saya juga memiliki hasrat yang sama
saya juga memiliki kecintaan yang sama
saya juga mengorbankan segalanya
saya juga sama menderitanya seperti anda...
tidakkah itu dalam pertimbangan?
kemudian saya menangis, bukan untuk ungkapan sedih, marah, atau kecewa
tetapi karena kesempatan negosiasi yang ditutup begitu saja
bahkan saya belum bicara sepatah kata pun, hingga hanya isak tangis yang dapat mengungkapkan bagaimana hati saya, otak saya, melihat hal ini dari sudut pandang saya...
yang bahkan belum sempat anda lihat.
Thursday, June 25, 2009
profesionalitas, kekompakan tim, karier, atau panggilan hidup (bahkan apabila kita telah satu keluarga)
Labels:
uneg-uneg
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



No comments:
Post a Comment