Apa yang membuatmu tetap berusaha berjalan seimbang saat tak ada seorangpun memastikan kamu tidak akan terjatuh?
Apa yang membuatmu tetap tegar dan kuat meskipun dunia telah menghancurkanmu menjadi berkeping-keping?
Dan saya punya jawaban untuk ini.
Saya bukanlah dewi amor, dewi kwan inn, apalagi dewi sri (Dewi beras yang konon selalu membawa kesuburan di Tanah Pertiwi )
Saya hanya mahasiswa biasa, tidak dengan GPA tinggi, bukan mahasiswa berprestasi, bukan mahasiswa organisatoris, bukan pula mahasiswa berlebih ‘tanpa kuliah sudah bisa hidup enak’. Saya adalah manusia biasa.
Kenyataan ini adalah alasan-alasan mengapa dunia tidak pernah peduli terhadap apa yang saya lakukan. Jika kurang cukup daftar tersebut, saya bisa menambahnya dengan serentetan kisah sedih yang beruntun mendera saya.
Tapi saya bukan tipe yang seperti itu=)
Dan saya menyadari tiap orang memiliki masalah yang tidak mudah untuk dimengerti orang lain. Tetapi bukan berati masalah itu akan membias pada cara kita memperlakukan orang lain kan? Tidak seperti itu.
Dunia bisa jahat pada kita.
Tapi kita tidak bisa jahat pada dunia.
Tidak akan pernah bisa. Dan tidak akan pernah tega.
Selama hampir 19 tahun kehidupan saya, banyak sekali cerita-cerita yang sesungguhnya amat tamak jika saya simpan sendirian.
Cerita-cerita sederhana, tapi mampu membuat saya bertahan hingga saat ini.
Dan semoga sedikit dunia bisa melihat saya=)
Kata kedua orang tua saya, waktu kecil saya adalah anak yang selalu ‘hampir hilang’. Saya sering kesasar sendirian di supermarket saat berumur kurang dari 5 tahun. Saya tenggelam di kolam renang. Saya nyasar di gang-gang kota nenek saya. Saya nyasar di tempat-tempat wisata.
Saat remaja saya adalah ‘pacar yang selalu hilang di keramaian’. Saya sering tiba-tiba kehilangan pacar saya (pada saat itu), dan terjebak di salah satu sudut toko boneka atau toko buku. Di pergaulanpun saya selalu terlambat membereskan barang-barang saya sehingga tertinggal dari teman-teman yang lain. Intinya saya selalu jadi yang: hilang, terlupakan, kesasar, sendirian, dan kebingungan.
Saya kemudian berpikir, apa yang selalu membuat saya kehilangan arah? Apa yang membuat saya lambat dan sendirian? Jawabannya adalah sifat saya sendiri.
Sifat saya yang selalu ingin tahu hal baru, sifat saya yang mendorong untuk nekat, dan sifat saya yang terlalu fokus terhadap sesuatu hingga melupakan hal lainnya. Entah itu pacar saya (dulu), teman-teman saya, keluarga saya, ataupun hal lain yang sesungguhnya membutuhkan perhatian saya.
Lalu saya berpikir lagi, “itu kan memang bawaan kecil saya?”
Dari kecil saya memang bukan anak dengan pergaulan luas, saya adalah anak manis dengan crayon atau buku dongeng di tangan. Saya bisa menggambar seharian, tapi tidak tahan kalau harus pergi ke pesta. Saya mudah bosan dengan keadaan yang tidak dapat membuat saya nyaman.
Namun suatu hal sederhana pula yang akhirnya menyadarkan saya, bahwa sensitivitas pada dunia itu memang penting dan nyata adanya.
Dalam kehidupan 19 tahun saya (saya mengulangi lagi, untuk meyakinkan), saya menemui banyak orang. Banyak orang yang mengajarkan banyak hal. Hingga saat ini saya mempunyai sahabat-sahabat yang selalu berbagi dunia bersama saya.
Jika saya bisa menyebutkan nama mereka satu persatu, saya ingin mengukirnya dengan tinta emas. Sungguh...=)
foto saya dan teman-teman saat karaoke bersama
Salah seorang teman saya, selalu membuat kekonyolan dengan mengganti status facebook dan mempermalukan teman-teman lain, tapi kami semua tidak pernah marah kepadanya. Kami tertawa. Ada juga yang terlalu konyol karena sifat polosnya yang keterlaluan. Namun dia tidak pernah marah saat jadi bahan ledekan, tapi ikut meledek bersama kami, seolah itu bukan hal besar. Ada juga teman saya selalu mendapat nilai ujian yang parah, kehilangan barang-barangnya, dan pernah hidup 2 bulan dengan tempat tinggal dan baju pinjaman. Tapi dia tetap tertawa atas kesialan-kesialannya. Teman saya yang lain selalu payah dalam hal cinta, tidak ada lelaki yang sanggup bertahan lama dengannya, hingga dia harus menjomblo selama lima tahun (jika saya bisa membanggakan hubungan 5 tahun, apa yang bisa dibanggakan menjadi single selama 5 tahun?). Tapi dia tetap perhatian dengan saya dan teman-teman yang lain. Teman saya yang lain adalah gadis yang sangat cantik, hingga awalnya kami minder berteman dengannya, tetapi ternyata lebih dari kecantikannya dia anak yang asyik berbagi suka dan duka=)
Sahabat saya yang lain, adalah sahabat sejati saya hampir 7 tahun ini. kami hanya tiga kali berpesta setiap tahunnya. Kami berbagi hal-hal penting dalam hidup. Seperti terikat dengan sendirinya, kami berusaha untuk selalu ada jika salah satu dari kami membutuhkan yang lainnya. Kami tertawa saat nonton kartun bersama, menggosip, dan bermain permainan bodoh timezone hampir setiap tahunnya.
Sahabat saya yang lain, adalah laki-laki yang masuk dalam kategori ‘Dewa Penyelamat’. Mereka tidak pernah melihat saya sebagai target, tidak juga membuat perbedaan gender sebagai batasan ‘curhat’, dan yang paling penting mereka adalah yang terkompak! Pundak mereka selalu ada bila saya ingin menangis. Ledekan mereka selalu ada jika saya manja. Dan saya selalu menganggap hal ini lebih sakral dari status pacar.
Kehilangan pacar adalah hal yang meruntuhkan dunia saya.
Tapi saat kehilangan sahabat, hidup saya sekarat seketika.
Dan saya pernah kehilangan keduanya, rasanya tidak bisa bernapas.
Kembali lagi ke fokus cerita....
Kesimpulannya,
Saya memiliki tipe teman yang berlawanan dengan sifat saya. Mereka tidak tahan untuk fokus terhadap sesuatu (seperti membaca, ataupun mengerjakan tugas). Mereka suka pesta, kemeriahan, dan canda tawa.
Keberadaan mereka selalu membuat yang lain tertawa. Mereka tidak suka dikenal jenius, tidak suka dikenal pintar, alih-alih ‘berbeda’.
Mereka suka persamaan, dan tidak meng-eksklusifkan diri pada sesuatu tertentu. Tidak seperti saya yang terkadang ambisius, keras kepala, dan merasa ‘berbeda’.
Lalu apa yang mereka cari dalam kehidupan?
Jawabnya, “tidak ada”
Mereka tidak mencari apapun dalam kehidupan ini, mereka tidak berpikir terlalu dalam, mereka tidak menyalahkan masa kecil dan sifat asli, ataupun kesialan-kesialan yang sebenarnya (terkadang) saya pikir lebih parah dari saya. Tapi mereka tetap tertawa.
Alasan mereka sangat sederhana, “kami hanya menyemarakkan dunia, kami membuat dunia tertawa bersama kami, dan tidak ada yang spesial untuk dunia. Tapi spesial untuk kita”
Dan apa yang kamu berikan pada akhirnya akan kembali kepadamu lagi.
Itu mengapa saya memilih manjadi orang baik.
Itu mengapa saya memilih untuk tetap tertawa bersama teman-teman saya.
“Jika kamu ingin dunia melihatmu, dunia tidak akan pernah melihatmu. Jika kamu ingin tidak terluka, maka tidak pernah ada kehidupan buatmu. Jika kamu merasa terlalu lemah untuk dunia, dunia justru makin keras terhadapmu.
Tetapi, jika kamu ingin menyemarakkan dunia, maka hidup akan lebih indah untukmu. Jika kamu ingin pulih dari luka, maka suatu saat dunia akan menjadi obat untukmu. Dan jika kamu tegar menghadapi hidup ini, sesungguhnya dunia bersahabat denganmu.”
Dan saya punya sedikit nasehat dari salah satu teman saya (yang wajib saya teruskan pada semua orang=) ),
“Berdoalah kepada Tuhan, karena hanya Dia yang mampu menghilangkan sesak di dalam dada”
Jangan takut pada dunia teman... jangan takut pada dunia, Nadia!



heh .. foto gw nya gak ad ..
ReplyDeletesial..
pdhl gw yg ngambil fotonya ..
hahahaha !!!
iya tar foto lo spesial amoorrr....
ReplyDeletekan lo spesial =)
maaf soal maliq....?