Sunday, July 5, 2009

tulisan-tulisan saat mabuk, adalah tulisan saya paling jujur

salah satu quote Leonardo da Vinci yang selalu saya ingat,
"menulislah bahkan jika kau sedang mabuk, dan bacalah ketika kau sadar"

menurut saya, kalimat ini begitu manis. karena, saat sesuatu yang real berelaborasi dengan sesuatu yang surreal, semuanya menjadi sangat jujur.

suatu malam setelah UAS berakhir, saya menemani seorang sahabat menghabiskan malam terakhirnya di Surabaya. kegiatan yang kami lakukan saat itu adalah ngafe, shisha, dan ngopi. kegiatan favorit kami.

kami duduk di area ruang terbuka di lantai dua. saya memesan segelas lemon squash, mulai mengobrol dan menulis. obrolan kami ringan.
ngobrol IP, rencana liburan, kisah cinta yang payah, kegiatan kemahiswaan yang parah, rencana-rencana semester depan, dan harapan-harapan agar semua lebih baik.

saat itu, langit Surabaya berwarna abu-abu dan kemerahan. sudah malam, tapi masih banyak asap.
sebenarnya tidak penting, apa warna langit Surabaya malam itu. namun bagi saya,

terkadang apa yang menurut saya penting, sesungguhnya jauh dari saya. dan yang tidak pernah saya perhatikan sangat nyata dan dekat dengan saya.

saya kemudian memesan shisha dan ice coffee, untuk merilekskan pikiran. dan saya termasuk yang cukup bandel. karena dengan riwayat anemia (kurangnya oksigen dalam darah). Nikotin, kafein, dan hal-hal semacam ini tidak baik.

saya anti rokok, tapi saya shisha (saya tidak tau ini baik atau tidak, tapi ini lebih elegan dari cewek perokok bukan. setidaknya saya tau shisha berasal dari jazirah arab, dan merupakan budaya timur tengah yang kaya =) )

kepala saya jadi pusing saat itu, saya tetap memaksakan menulis. tulisan-tulisan saya jadi semakin kabur fokusnya. apa saja yang terlintas saya tulis begitu saja. tanpa ada coretan. tanpa ada revisi kata. hanya menulis, dan menganggapnya lalu.
seperti asap shisha yang mengepul, dan menghangatkan malam itu.

kurang lebihnya beginilah tulisan saya saat itu, tulisan saya saat sedang mabuk (tanpa revisi) :

"cinta itu warna-warna kehidupan. aku sedang duduk di kafe menikmati malam, memikirkan hidup dan meresapi makna. aku dilupakan, aku yang tersingkirkan. tetapi sama sekali aku bukan pencundang. bahkan jika aku bukanlah pahlawan, aku tetaplah diriku sendiri. Dan aku tetap bersyukur ada di jalan ini, bukan jalan lain. Jika memang kebahagiaan itu masih terlalu jauh dan menggantung di awan, itu bukanlah kendala untukku tetap hidup. Apa yang menarik di akhir usia belasan? dikhianati kekasih? ditolak dalam setiap kesempatan? apa aku sungguh-sungguh pecundang kehidupan? jika cinta itu memang ada, seharusnya ia hadir bukan acuh tak acuh meninggalkanku dalam sedih. bukan yang terpilih."

dan saat sadar saya membacanya, yang saya pikirkan:
"Ya Alloh, saya berbakat membuat novel roman picisan"
terlalu banyak emosi, sedih, dan melankolis.

tapi saat saya membacanya lagi, lagi, dan lagi, rasanya saya menemukan pemahaman berbeda dibanding saat saya sedang "mabuk" itu. dan sedikit jelas buat saya.

1. bahkan jika coretan itu tidak berarti, itulah luapan emosi saya saat itu
2. saya tidak menemukan suatu alur yang runtut, tapi saya menemukan potongan-potongan puzzle yang bermakna
3. bahwa saya masih membutuhkan banyak malam lagi untuk menjawab pertanyaan saya
4. bahwa yang sedang saya pikirkan saat ini adalah: "saya tidak ingin meninggalkan siapapun dalam sedih. terlebih keluarga dan sahabat saya. orang-orang yang dekat dengan saya."
5.
dan saya berharap, tidak ada orang yang mengenal saya sedang membaca posting ini. karena ini terlalu cengeng. bahkan untuk ukuran saya.
6. ternyata saya masih percaya dengan "cinta" (Ya Tuhan, saya mellow sekali....)



*sorry for the lack of resolution

No comments:

Post a Comment