First of all, i want to apologize for all inconvenience, cause this post will be written in Indonesian. maybe for some of you, it'll be challenging to read :)
"ada tiga hal yang tidak boleh hilang: harapan, keikhlasan, kejujuran" -Broadcast Message BBM-
Hari ini adalah awal minggu keempat Kerja Praktek saya di PT Telkom, Tbk (BUMN Telekomunikasi terbesar di Indonesia). seperti minggu-minggu sebelumnya, jam kerja kantor kami dimulai dari 08.00-17.00 WIB, dan setiap pagi, saya diantarkan ke tempat kerja bersama Tante, teman saya Ibe, dan supir kami yang jenaka pak Febri.
Semua orang tidak heran jika Jakarta itu macet, sumpek, cuek, kotor, angkuh, dan beberapa kata sifat lain yang menggambarkan perkantoran Jakarta yang melintas di sepanjang garis kota ini (Mulai dari Monas hingga Sudirman). Namun ada beberapa fakta menarik yang saya amati selama kurang lebih satu bulan kerja prkatek saya disini:
- Dalam perjalanan pulang saya setiap harinya, menggunakan transportasi umum Trans Jakarta, saya mendapati setiap orang sibuk dengan handphone dan headset di telinga mereka. Suasana bus yang sangat penuh (sekitar pukulk 17.00-19.00) adalah keadaan yang lumrah. semua orang tampak acuh.
-Namun, jika ada tempat duduk yang kosong dalam bus yang umpel-umpelan itu, hampir selalu Mas-Mas/Bapak-Bapak itu memberikannya kepada wanita terlebih dahulu. Saya sadar, masih banyak laki-laki baik di luar sana, yang ikhlas menolong dan melindungi.
-Hampir tidak ada orang yang mengucapkan terimakasih kepada Pak Kondektur bus, budaya ini sungguh berbeda dengan kota saya, Surabaya. Di Surabaya kami selalu mengucapkan terimakasih atas layanan yang diberikan, baik kepada penjaga lift ataupun tukang parkir di jalan-jalan.
-Namun, jika saya bertanya kepada siapapun orang yang saya temui, mereka selalu berusaha menjelaskan dengan jujur, sebaik mereka mampu. Saya banyak ditolong dijalanan, mulai dari mencari arah hingga bertanya preferensi. Orang-orang yang belum tentu akan saya temui lagi, saya tidak tahu harus membalas kebaikan mereka dengan apa?
-Saya melihat, mendengar, dan berbicara dengan orang yang logatnya berbeda-beda di setiap tempat. Ada Jawa Timur yang medok sekali, Jawa Tengah yang sopan sekali, Orang Sunda yang terdengar begitu ramah, orang Jakarta asli yang terkesan nyolot, orang Batak yang seperti marah-marah, dan masih banyak lagi.
-Namun, saya sadar betul, kota ini dihidupkan dari begitu banyaknya kaum urban. bahkan kebanyakan orang yang saya temui di kantor, adalah pendatang. Kata salah satu teman saya, Soraya, yang asli Jakarta. "Waktu orang-orang mudik kala lebaran, Jakarta seperti kota mati..."
-Terlalu banyak gedung tinggi di Jakarta! Saya dan teman saya Ibe hingga membuat list gedung-gedung tinggi di Jakarta (antara lain Peak Tower, Gedung BNI, Menara BCA). Selain itu juga mall-mall terbesar di Indonesia, kami sudah mengunjungi Grand Indonesia (Terbesar Ketiga), Mall Taman Anggrek (Terbesar Pertama).
Pernah suatu hari di akhir pekan, saya dan Ibe berjalan-jalan di Monas, kami menghabiskan waktu dari pukul 16.00-19.00 di sana. Kegiatan yang kami lakukan? Ngobrol dan makan manisan mangga. Kami berputar di sekeliling, begitu banyak orang bermain futsal, layangan, dan olah raga sepeda. Setelah lelah berjalan, kami memilih tempat duduk yang memungkinkan kami melihat sunset, tapi setelah berputar-putar tidak ada satupun spot yang dapat dijadikan tempat melihat sunset. Semua dipagari gedung tinggi. Kami agak kecewa, namun kami tetap menikmati sabtu sore kami di sana.... tidak menyangka kami akan jalan-jalan jauh dari rumah (Saya, Surabaya. Ibe, Tabanan-Bali)
-Namun setiap pagi, setidaknya saya selalu melihat matahari pagi satu kali! Dalam perjalanan dari Tebet menuju Kebon Sirih, kami selalu melewati daerah Manggarai. Lokasi yang sumpek karena bertemunya, sungai, pasar, lintasan komuter, jalur Trans, serta berjubelnya kendaraan. Saya melihat cercah-cercah sinar diantara Komuter yang lewat, tiang-tiang listrik, serta pantulan cahaya dari air sungai yang keruh. Begitu semrawut. Tapi, begitu saya melihat ekspresi orang-orang yang melintas di Manggarai, saya melihat, inilah Matahari di Manggarai! Pancaran mata yang optimis, jiwa yang gigih, berlomba-lomba mendahului Matahari. Orang-orang yang tetap semangat walau harus berdesak-desakan di Trans, duduk di atas atap komuter, metromini hingga mobil bos-bos yang balapan di jalan sepanjang Manggarai, mengjear Matahari. Harapan.
Itulah secuil cerita saya di Jakarta. tidak ada yang hilang di sini. Kejujuran, Keikhlasan, dan Harapan dapat saya temui setiap hari di tengah kesempitan ekonomi, sumpeknya tata kota, dan waktu yang seakan berlari di sini.




No comments:
Post a Comment